Ini faktor yang membuat harga minyak WTI berpotensi melaju ke atas US$ 53 per barel

Ini faktor yang membuat harga minyak WTI berpotensi melaju ke atas US$ 53 per barel


ILUSTRASI. Harga minyak WTI diproyeksi masih bullish

Reporter: Danielisa Putriadita | Editor: Anna Suci Perwitasari

DATABUDAYA – JAKARTA. Pasokan minyak mentah dunia yang terjaga membuat harga minyak berpotensi terus melaju dalam waktu dekat. 

Mengutip Bloomberg, Kamis (14/1) pukul 17.45 WIB, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman Februari 2021 turun tipis 0,1% ke US$ 52,83 per barel. Pada perdagangan hari ini, harga minyak WTI cenderung bergerak fluktuatif.

Asal tahu saja, pada Selasa (12/1), harga minyak WTI sempat sentuh rekor tertinggi sejak Februari 2020 di level US$ 53,21 per barel. 

Analis Global Kapital Investama Alwi Assegaf memproyeksikan, harga minyak lanjutkan penguatan karena sentimen positif banyak menyelimuti komoditas energi ini. 

Baca Juga: Harga minyak berbalik menguat berkat stok minyak AS yang turun

Pertama, harga minyak turut disokong kembalinya sentimen risk on pada semua komoditas energi, setelah adanya vaksin Covid-19 yang dilakukan sejumlah negara dan perekonomian global yang diproyeksikan pulih di 2021. 

“Ekonomi pulih maka permintaan bahan dasar energi bisa turut pulih,” kata dia, Kamis (14/1). 

Kedua, kemenangan Joe Biden sebagai Presiden Amerika Serikat (AS) dan partai Demokrat yang menguasai Senat dan Kongres juga menjadi sentimen positif bagi harga minyak. 

Saat pemerintahan Biden berjalan, pelaku pasar optimistis stimulus ekonomi akan semakin banyak berikan. “Pemerintahan Biden berikan optimisme bahwa pemulihan ekonomi akan cepat terjadi,” lanjut Alwi. 

Secara fundamental, minyak terus menguat karena pasokan yang semakin terjaga. Alwi bilang, pekan lalu OPEC+ dan negara non OPEC sepakat untuk memangkas produksi minyak mereka. 

Terlebih, Arab Saudi secara sukarela memangkas produksi minyak sebesar 1 juta barel per hari pada bulan Februari dan Maret. Begitu pun Rusia memangkas rencana kenaikan produksi minyaknya dari 500.000 barel per hari menjadi 75.000 barel per hari. 

“Komitmen OPEC yang terus terjaga membuat harga minyak dalam tren naik,” jelas Alwi. 

Penguatan harga minyak juga didukung dari data cadangan minyak AS yang menurun. Kemarin, Energy Information Administration (EIA) melaporkan, penurunan stok minyak sebesar 3,2 juta barel di pekan lalu. 

Penurunan tersebut lebih dalam dari proyeksi pasar dengan 2,3 juta barel. Dengan turunnya stok minyak AS, maka kekhawatiran kelebihan pasokan minyak bisa jadi bisa teratasi. 

Baca Juga: Harga minyak kembali melemah karena kekhawatiran lonjakan kasus virus corona global

Selain itu, Alwi juga menyebut JP Morgan mengeluarkan riset yang memproyeksikan harga minyak Brent berpotensi naik ke US$ 65 per barel disokong pemulihan permintaan dari bahan bakar jet global. 

Namun, di satu sisi, Alwi mengingatkan penyebaran virus corona yang masih mengkhawatirkan dan membuat sejumlah negara kembali melakukan lockdown turut menghantui pergerakan minyak.

Meski begitu, Alwi saat ini optimistis prospek harga minyak bullish. Alwi memproyeksikan dalam sepekan ke depan, harga minyak berada di rentang US$ 51,40 per barel-US$ 56,50 per barel. 

 

 

DONASI, Dapat Voucer Gratis!

Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di DATABUDAYA Store.





Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *