Mengukur dampak pembebasan pajak dividen bagi emiten konglomerasi


ILUSTRASI. Karyawan mengabadikan layar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta. ANTARA FOTO/Reno Esnir

Reporter: Benedicta Prima | Editor: Herlina Kartika Dewi

DATABUDAYA.NET – JAKARTA. Pemerintah telah mengeluarkan beleid turunan mengenai insentif pajak penghasilan (PPh) dividen melalui PMK Nomor 18/PMK.03/2021. 

Beleid tersebut mulai efektif berlaku per tanggal 17 Februari 2021, dengan mengecualikan dividen sebagai objek pajak dengan syarat para wajib pakak menanamkan kembali modalnya sebanyak 30% dari dividen yang didapatkan ke dalam instrumen investasi. 

Analis Philip Sekuritas Anugerah Zamzami Nasr menjelaskan induk usaha akan mendapatkan keuntungan dari beleid ini karena nilai dividen yang diterima dari entitas anak bisa meningkat. “Jadi lebih banyak kas yang didapat, dan bisa digunakan untuk capex misalnya,” jelas dia, Kamis (4/3). 

DATABUDAYA.NET mencatat, berdasarkan indeks high dividen 20 di Bursa Efek Indonesia terdapat beberapa saham konglomerasi yang rajin membagikan dividen. Antara lain PT United Tractors Tbk (UNTR) yang merupakan entitas anak PT Astra International Tbk (ASII), kemudian PT Adaro Energy Tbk (ADRO) yang merupakan anak PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG). 

Selain itu ada PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) yang masuk dalam Grup Salim PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) dan PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS) yang masuk dalam Grup Sinarmas. 

Baca Juga: Ada pembebasan pajak dividen, saham-saham ini menarik untuk dicermati

“Nama-nama konglomerasi di atas masih baik fundamentalnya. potensi kenaikan harganya juga masih ada,” jelas Zamzami. 

Dampak kebijakan ini seharusnya positif terhadap pergerakan harga saham masing-masing emiten tersebut, namun saat ini belum terlalu tercermin. Pasalnya beleid ini bukan menjadi katalis utama sehingga juga perlu melihat lagi katalis per industri seperti ASII dengan penjualan produk otomotifnya yang juga mendapatkan insentif dari pemerintah. 

Besaran dampak beleid ini pada setiap emiten tergantung pada laba yang dihasilkan oleh anak perusahaannya. Apabila ditelisik, penerimaan dividen ASII di 2020 turun cukup dalam yaitu 35% dari Rp 5,7 triliun menjadi Rp 3,7 triliun. Sedangkan SRTG yang merupakan perusahaan investasi dimana sumber pendapatannya dari penerimaan dividen, bunga dan hasil investasi mengalami penurunan 60% yoy per kuartal III-2020 dari Rp 1,7 triliun menjadi Rp 660 miliar. 

“Artinya hal ini SRTG sebagai perusahaan investasi bisa lebih merasakan relaksasi dividen ini,” imbuhnya. 

Adapun Zamzami merekomendasikan saham ASII dengan target harga konsensus di Rp 6.750, INDF Rp 8.500 dan BBCA Rp 37.800.

 

DONASI, Dapat Voucer Gratis!

Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di DATABUDAYA Store.





Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *