Menyiapkan pendidikan berkualitas untuk petani milenial


DATABUDAYA.NET –  JAKARTA. Program Studi Teknologi Benih Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta Magelang (Polbangtan Yoma) menggelar Asesmen Lapangan dalam rangka akreditasi program studi pada Jumat (5/3) dan Sabtu (6/3). 

Kegiatan yang biasanya dilakukan secara langsung, kali ini dilaksanakan secara daring karena kondisi pandemi. Tim asesor dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) yang bertindak sebagai penilai yakni Mery Hasmeda dari Universitas Sriwijaya dan Muhammad Achmad Chozin, Guru Besar IPB University.

Kegiatan Asesmen Lapangan tersebut dikawal dan melibatkan semua civitas akademika Polbangtan Yoma mulai dari Direktur hingga Mahasiswa. Aspek yang dinilai oleh asesor sebagai bahan pertimbangan menentukan peringkat akreditasi meliputi Visi, Misi, Tujuan, dan Strategi Penyelenggaraan Pendidikan, Kegiatan Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Tata Pamong, Tata Kelola, Kerjasama, Sumberdaya Manusia, Mahasiswa, Tata Kelola Keuangan, dan dukungan Sarana Prasarana Pendidikan.

Plt Direktur Polbangtan Yoma, Rajiman menyatakan bahwa sebagai salah satu institusi penyelenggara pendidikan vokasi pertanian, Polbangtan Yoma diberi mandat untuk mencetak generasi petani milenial yang handal dan terjamin kompetensinya. Rajiman melanjutkan akreditasi merupakan bentuk jaminan penyelenggaraan pendidikan sekaligus pengakuan formal dari pihak eksternal atas mutu suatu institusi pendidikan.

Baca Juga: Mayoritas penduduk Indonesia generasi Z dan milenial, ini saran ekonom Indef

“Polbangtan Yoma sangat peduli dengan kualitas pendidikan yang diselenggarakan agar lulusan yang dihasilkan nantinya berkualitas, kompeten, dan diakui oleh masyarakat luas,” tegas Rajiman dalam keterangannya, Senin (8/3).

Mengutip pernyataan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, bahwa pendidikan vokasi merupakan unsur penting dalam upaya regenerasi petani di Indonesia.
“Melalui pendidikan vokasi akan muncul petani milenial yang mampu memberikan inovasi. Karena bagaimanapun, masa depan pertanian ada di generasi milenial,” ujar Syahrul.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Badan PPSDMP Dedi Nursyamsi turut menekankan bahwa petani di Indonesia saat ini didominasi oleh petani usia tua dan sangat perlu dilakukan upaya regenerasi.

Dedi menyatakan bahwa, “Jika tidak dilakukan regenerasi, dalam 5 sampai 10 tahun lagi kita bisa kekurangan petani. Penyelenggaraan pendidikan vokasi menjadi salah satu jalan kita untuk mendapatkan petani-petani muda dari kalangan milenial yang berkualitas.” 

Saat menutup rangkaian acara, Rajiman berharap Prodi Teknologi Benih Polbangtan Yoma mendapatkan peringkat akreditasi yang terbaik sesuai dengan upaya yang telah dilakukan. 

 



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *