Mandiri Manajemen Investasi targetkan dana kelolaan tahun ini capai Rp 73 triliun


ILUSTRASI. Market Outlook 2020 oleh PT Mandiri Manajemen Investasi (MMI) di Jakarta (5/3/2020). Mandiri Manajemen Investasi targetkan dana kelolaan tahun ini capai Rp 73 triliun.

Reporter: Akhmad Suryahadi | Editor: Noverius Laoli

DATABUDAYA.NET –  JAKARTA. PT Mandiri Manajemen Investasi (MMI) berhasil catatkan raihan kinerja yang mentereng pada 2020 lalu.

Direktur Utama Mandiri Manajemen Investasi, Alvin Pattisahusiwa, mengatakan, pada akhir 2020, MMI berhasil mengumpulkan dana kelolaan atau Asset Under Management (AUM) reksadana mencapai Rp 49,3 triliun. 

Sementara jika dijumlahkan dengan dana kelolaan reksadana penyertaan terbatas, produk investasi alternatif, pengelolaan dana nasabah individu, serta AUM dari Mandiri Investment Management Singapore (MIMS), keseluruhan AUM MMI mencapai Rp 67,6 triliun pada akhir 2020.

“Kami mengalami pertumbuhan AUM, kami juga naikkan laba perusahaan lebih dari 50%. Fokuskan penjualan produk dengan margin yang lebih tinggi. Produk-produk nilah yang berkontribusi dari sisi revenue maupun laba,” ujar Alvin dalam virtual media gathering pada Rabu (10/3). 

“Selain alami pertumbuhan AUM, kami juga berhasil meningkatkan laba perusahaan lebih dari 50% secara yoy. Keberhasilan ini tidak terlepas dari strategi kami untuk fokus menjual produk dengan margin yang lebih tinggi. Produk-produk inilah yang pada akhirnya berkontribusi dari sisi pendapatan maupun laba MMI,” tambah.

Baca Juga: Simak deretan saham pilihan Mirae Asset Sekuritas untuk bulan ini

Pada acara yang sama, Direktur Mandiri Manajemen Investasi, Endang Astharanti menambahkan, reksadana pasar uang merupakan faktor utama yang menopang pertumbuhan AUM MMI pada tahun lalu. Menurutnya, kondisi ini tidak terlepas dari adanya pandemi Covid-19 yang memicu pasar menjadi risk-off dan beralih ke aset yang lebih konservatif, salah satunya adalah reksadana pasar uang.

Bahkan, Endang mengatakan, pertumbuhan AUM reksadana pasar uang milik MMI pada tahun lalu mencapai di atas 50%. Jumlah tersebut jauh lebih tinggi dibanding kenaikan reksadana pasar uang secara industri, yang kenaikannya sekitar 36%.

“Selain reksadana pasar uang, kelas aset lain yang naik cukup signifikan adalah reksadana saham yang berbasis offshore. Ini didorong oleh market global yang memang rally pada paruh kedua tahun lalu sehingga membuat investor mendiversifikasi portofolio mereka ke reksadana saham offshore,” tambah Endang.

Menyambut tahun ini, Endang melihat reksadana pasar uang masih akan mengalami pertumbuhan yang paling tinggi, walau tidak akan sesignifikan tahun lalu. Menurutnya, investor pada tahun ini sudah mulai kembali ke aset berisiko seiring kondisi ekonomi yang mulai pulih kembali.

Ia memperkirakan, reksadana berbasis saham, khususnya yang offshore akan mendorong pertumbuhan AUM di tahun ini. Hal ini tercermin dari adanya aksi subscription pada reksadana saham offshore pada awal tahun ini. Sementara untuk pendapatan tetap, menurutnya pertumbuhan AUM-nya tidak akan setinggi yang berbasis saham.

Baca Juga: Mandiri Sekuritas rekomendasikan beli saham HMSP

DONASI, Dapat Voucer Gratis!

Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di DATABUDAYA Store.





Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *