Mereka yang Pusing Akibat Kebijakan Minuman Beralkohol


ILUSTRASI. Owner Ferruccio Grimaldi tastes a Barolo red wine in the Grimaldi’s cave in Barolo, northern Italy, October 19, 2018. REUTERS/Stefano Rellandini

Reporter: Asnil Bambani Amri | Editor: Asnil Amri

DATABUDAYA.NET –  Anais, seroang warga Yogyakarta, sudah delapan tahun mengembangkan minuman beralkohol dari hasil fermentasi. Sejumlah produk minuman dari olahan biji-bijian dan buah-buahan telah dihasilkannya untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan handai taulannya. Anais memproduksi minuman beralkohol sendiri setelah adanya larangan menjual khamar di minimarket pada tahun 2015 silam.

Tahun berganti, kemampuan Anais bertambah. Varian produk minuman beralkohol hasil fermentasinya pun makin banyak. Kini, ada tujuh varian minuman beralkohol yang bisa dia produksi, mulai dari makkoli, sake, shochu, dan lainnya. Semua khamar itu dijual terbatas tanpa cukai untuk teman dan komunitas yang dikenal saja. Saya tak bisa menjual terbuka, kata Anais.

Ini Artikel Spesial

Hanya dengan berlangganan Rp 10.000 selama 30 hari Anda dapat membaca berita pilihan, independen, dan inspiratif ini.

Login

ATAU



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *