Kembangkan platform Noice, begini target bisnis Mahaka Radio (MARI) tahun ini


ILUSTRASI. Tahun ini, PT Mahaka Radio Integra Tbk (MARI) bakal fokus mengembangkan platform podcast, radio, dan musik bernama Noice.

Reporter: Amalia Nur Fitri | Editor: Khomarul Hidayat

DATABUDAYA.NET – JAKARTA. Tahun ini, PT Mahaka Radio Integra Tbk (MARI) bakal fokus mengembangkan platform podcast, radio, dan musik bernama Noice.

Presiden Direktur Mahaka Radio Integra, Adrian Syarkawi, platform ini sudah diluncurkan di tahun 2018 lalu dan akan diluncurkan ulang alias relaunching. Emiten media ini melihat perkembangan dan potensi yang lebih besar dari Noice tahun ini.

Pada 2021, MARI khusus menargetkan penambahan empat kali lipat pengguna Noice menjadi 1,8 juta pengguna Noice.

Dari target tersebut, 1 juta diantaranya ditargetkan menjadi pengguna aktif atau active user. Selama ini, baru ada 170.000 active user Noice.

”Noice akan di-monetize pada kuartal terakhir dari iklan dan subcribers. Potensi iklan sudah besar, tapi belum diakomodir karena kami mau kuatkan teknologi dan kontennya dulu,” kata Adrian saat public expose insidentil yang berlangsung virtual, Selasa (16/3).

Baca Juga: Bisnis Reklame PT Mahaka Media Tbk (ABBA) Turun 50% Selama Pandemi

Menurut Adrian, Noice merupakan pengembangan bisnis baru yang berfokus pada bussiness to consumer (B2C). Saat ini, MARI memiliki bisnis inti pada bussiness to bussiness (B2B). Tak hanya Noice, inovasi B2C tersebut terdiri dari MARI Institute, konser virtual, talent management, ritel, dan visual.

Khusus pengembangan konser virtual, MARI tengah menyiapkan perusahaan patungan yang mana secara legal akan diteken dalam waktu dekat ini.

”Modal dasarnya tidak besar karena fokusnya di konser digital. Tapi, kedepan valuasinya akan menarik. Dalam waktu dekat, kami akan lakukan konser internasional dan 90% sudah deal artisnya yang punya nama besar,” katanya.

Adrian mengatakan, dalam 5 tahun ke depan, inovasi bisnis B2C ini ditargetkan bisa memberikan sumbangan ke kinerja perseroan hingga 35%.

“Tahun ini, kontribusinya masih kecil, masih di bawah 10%. Secara garis besar industri media dan anak usaha mengalami penurunan karena faktor pandemi. Jadi, kami strateginya melakukan banyak inovasi ke B2C. B2C tahun ini di bawah 10%, nanti B2C akan besar supaya tidak ketergantungan iklan 650, sehingga kontrol bisnis akan lebih kuat ke MARI. B2C itu seperti merchandise, MARI Institut, e-concert, yakni transaksi pembelian dengan user, baik ticketing maupun merchandise,” jelas Adrian.

Dari sisi kinerja keuangan, MARI mencatatkan rugi bersih pada kuartal III tahun lalu. Per 30 September 2020, MARI merugi Rp 15,47 miliar. Pada periode sama tahun 2019, MARI masih membukukan laba bersih tahun berjalan sebesar Rp 22,46 miliar.

 

 

DONASI, Dapat Voucer Gratis!

Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di DATABUDAYA Store.





Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *