Rohaniwan dan LSM Minta Pemerintah Biden Bantu Negara Miskin Atasi Dampak Pandemi


ILUSTRASI. Janet Yellen dalam acara The Fed di Washington, 13 December 2017. REUTERS/Jonathan Ernst TPX IMAGES OF THE DAY

Reporter: Thomas Hadiwinata | Editor: Thomas Hadiwinata

DATABUDAYA.NET – WASHINGTON. Organisasi keagamaan di Amerika Serikat (AS) dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) meminta pemerintahnya mengulurkan tangan bagi negara-negara miskin dalam mengatasi dampak pandemi.

Permintaan semacam itu akan disampaikan Jubilee USA Network dan para pemimpin dari organisasi agama Kristen dan Yahudi di AS dalam pertemuan dengan Menteri Keuangan AS, Janet Yellen, hari ini (16/3). Jubilee USA Network merupakan LSM yang mengadvokasi penghapusan utang untuk negara-negara berkembang.

Pertemuan akan membahas cara-cara untuk meningkatkan sumber daya guna membantu negara-negara miskin dan berpenghasilan menengah mengatasi dampak dari pandemi COVID-19, restrukturisasi utang permanen dan perubahan iklim, demikian pernyataan Eric LeCompte, direktur eksekutif Jubilee USA Network.

Baca Juga: Inflasi AS diprediksi masih rendah, rupiah punya peluang menguat

Seperti dikutip Reuters, LeCompte mengatakan adalah hal biasa bagi para pemimpin agama untuk bertemu sekali dengan presiden AS selama masa jabatannya. Tetapi, pertemuan organisasi itu dengan menteri keuangan tidaklah lazim.

“Yang unik adalah lembaga-lembaga agama besar bersatu untuk menyelesaikan krisis pandemi saat ini dan mencegah krisis di masa depan,” kata dia, seperti dikutip Reuters. Bank Dunia memperkirakan pandemi akan mendorong sebanyak 150 juta orang penduduk dunia akan terjerumus ke dalam kemiskinan ekstrem.

Dia mengatakan pertemuan tersebut mencerminkan fokus Yellen pada sifat global pandemi, dan kesediaannya untuk terlibat dengan berbagai pemimpin di AS untuk mencari solusi.

Baca Juga: Awasi dana stimulus ekonomi, Joe Biden tunjuk Gene Sperling

Berbagai organisasi agama mendesak Pemerintahan Biden untuk mendukung peningkatan dana cadangan darurat Dana Moneter Internasional (IMF) atau Special Drawing Rights (SDR) untuk membantu negara-negara miskin yang semakin morat-marit di masa pandemi.

Dengan sejumlah syarat, Yellen telah menyatakan dukungan bagi alokasi SDR IMF yang baru. Sikap Yellen itu bertentangan dengan posisi yang diambil Pemerintahan AS di bawah Donald Trump. Sebagai pemegang saham terbesar IMF, dukungan dari Pemerintah AS sangat penting untuk  mengeksekusi rencana peningkatan cadangan.

Yellen, Senin (15/3) bertemu dengan Menteri Keuangan Inggris Rishi Sunak. Keduanya sepakat alokasi SDR baru dapat menjadi bagian penting dari paket dukungan untuk negara-negara berpenghasilan rendah.

Italia dan anggota lain dari Kelompok 20 negara ekonomi maju telah menyerukan penerbitan SDR baru senilai US$ 500 miliar. Penerbitan SDR oleh IMF tak ubahnya pencetakan uang oleh bank sentral di sebuah negara. IMF masih menyusun proposal penerbitan SDR, untuk diajukan ke negara-negara anggotanya musim semi ini.

 

 



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *