Industri elektronik dihadapkan sejumlah tantangan pada awal tahun ini


ILUSTRASI. Suasana penjualan barang elektronik di Electronic City SCBD, Jakarta, Selasa (5/1/2021). ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/rwa.

Reporter: Arfyana Citra Rahayu | Editor: Tendi Mahadi

DATABUDAYA.NET – JAKARTA. Industri elektronik lokal berjibaku menjaga stabilitas harga jual karena saat ini menghadapi banyak rintangan. Mulai dari kelangkaan kontainer, melemahnya rupiah terhadap dolar, hingga kenaikan harga bahan baku jadi biang keladinya. 

Sebagai informasi, saat ini kurs rupiah yang sampai hari ini  masih nyaman bertengger di atas Rp 14.000 per dolar AS menjadi tantangan tersendiri bagi produsen elektronik lokal karena mayoritas bahan baku masih dipasok dari luar negeri. 

Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Elektronik (Gabel),  Daniel Suhardiman menjelaskan rata-rata komponen yang diimpor masih di kisaran 60% sampai 70% hampir merata di seluruh kategori elektronik. 

Baca Juga: Tertekan PPKM, penjualan toko Ace Hardware (ACES) Februari 2021 melorot

Tentunya dengan komposisi importasi komponen yang masih dominan, sentimen negatif yang terjadi di dunia saat ini berpengaruh besar bagi industri elektronik dalam negeri. 

Daniel mengatakan ada sejumlah faktor yang menjadi tantangan besar bagi industri elektronik Indonesia. Pertama adalah biaya kontainer yang masih mahal. Ini masih belum normal semenjak Desember 2020 lalu. 

Kedua, bahan baku yang melonjak atau naik hingga 50% ada juga yang rata-rata naik 20%. Salah satu komponen bahan baku yang mengalami kenaikan adalah LED untuk TV. Faktor ketiga adalah melemahnya rupiah yang yang dirasakan produsen elektronik dalam negeri. “Di tengah kondisi ini, logikanya harus ada penyesuaian harga,” jelasnya kepada DATABUDAYA.NET, Kamis (18/3). 

Daniel mengatakan, antisipasi yang sudah dilakukan industri adalah efisiensi dan menjaga produktivitas. Di sisi lain, dukungan pemerintah juga penting.

Baca Juga: Bujet capex Rp 7 triliun, ini 3 jurus XL Axiata (EXCL) tumbuhkan kinerja tahun ini

PT Sharp Electronics Indonesia (SEID) turut merasakan hal tersebut. Senior General Manager National Sales Sharp Electronics Indonesia, Andri Adi Utomo menjelaskan saat ini sejumlah produk elektronik yang Sharp produksi di Indonesia meliputi LED TV, lemari es dan mesin cuci. Ketiga produk ini memiliki  tingkat kandungan impor di kisaran 40% sampai 60% tergantung produknya. 

Andri mengungkapkan pelemahan rupiah terhadap dolar masih bisa diantisipasi SEID dengan hedging. Namun, tantangan besar lainnya yang harus dihadapi adalah kenaikan harga material seperti besi, tembaga, dan plastik karena tingginya permintaan di China yang berujung pada kelangkaan. Saat ini komponen bahan baku elektronik Sharp Indonesia masih dipasok sebagian dari China, Thailand, dan negara lainnya.

“Kenaikan harga material ini sudah dirasakan di awal Februari. Tetapi kami masih bisa tahan sampai Maret,” jelasnya saat dihubungi terpisah.  

DONASI, Dapat Voucer Gratis!

Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di DATABUDAYA Store.





Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *