Pembangunan Kampus Untirta Sindangsari gunakan teknik konstruksi laba-laba


ILUSTRASI. Pekerja konstruksi berada di rangka proyek

Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk | Editor: Yudho Winarto

DATABUDAYA.NET – JAKARTA. Kampus Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) di SIndangsari, Kabupaten Serang, Banten, yang baru diresmikan Presiden Joko Widodo pada Kamis (4/3)  memanfaatkan penggunaan konstruksi sarang laba-laba. Dari 12 gedung di kampus baru itu, sebanyak 8 gedung menggunakan konstruksi tersebut.

Pembangunan kampus baru ini dibiayai dari pinjaman  Bank Pembangunan Islam (Islamic Development Bank/ IDB) senilai US$ 56,9 juta atau setara Rp 820,5 miliar).

“Penggunaan konstruksi sarang laba-laba karena selain merupakan karya anak bangsa juga karena konstruksi ini tahan gempa dan tentunya mempertimbangkan efisiensi mengingat gedung yang kami bangun hanya empat lantai,” kata Ketua Tim Teknis dan PIC Civilwork Kampus Untirta Sindangsari, Rifky Ujianto dalam siaran pers yang diterima DATABUDAYA.NET, Kamis (18/3).

Seperti diketahui konstruksi sarang laba-laba merupakan inovasi yang patennya dipegang PT Katama. Sesuai namanya konstruksi  ini merupakan fondasi yang dibentuk dari rangkaian sirip berbentuk segitiga terbuat dari kombinasi besi dan beton. Apabila dilihat dari atas menyerupai jaring laba-laba.

Baca Juga: Kejagung selidiki korupsi di proyek universitas

Fondasi ini sudah banyak dimanfaatkan untuk bangunan-bangunan tahan gempa di  Aceh, Sumatera Barat, dan Bengkulu, bahkan juga dimanfaatkan untuk landasan glinding/ taxiway Bandara Juata Tarakan, Kalimantan Utara serta beberapa ruas jalan  di tanah ekstrim.

Bagi Fakultas Teknik Untirta hadirnya konstruksi peraih upakarti ini menjadikan laboratorium nyata. Dosen dan Mahasiswa dapat praktik langsung sehingga  dapat membangkitkan motivasi untuk menciptakan inovasi-inovasi di bidang konstruksi.

Rifky mengakui hadirnya konstruksi sarang laba-laba membantu dosen dan mahasiswa untuk mempelajari konstruksi terutama untuk mengetahui kemampuannya untuk menahan gempa.

Bahkan, saat pekerjaan yang sudah mencapai 70%  terjadi gempa di Kabupaten Serang sebesar 7,1 SR ternyata bangunan tidak mengalami kerusakan sedikit pun.

Rifky juga menjelaskan konstruksi sarang laba-laba didisain untuk bangunan enam lantai di daerah gempa. Sedangkan di kampus Untirta Sindangsari gedung yang menggunakan konstruksi ini hanya empat lantai.

Rifky juga menjelaskan mengapa hanya delapan dari dua belas bangunan saja yang menggunakan konsruksi sarang laba-laba, karena sebagian lahan di kawasan ini menggunakan sistem cut and fill (gali dan uruk) yang tidak cocok untuk konstruksi sarang laba-laba.

DONASI, Dapat Voucer Gratis!

Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di DATABUDAYA Store.





Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *